Senin, 28 Desember 2015

Mesjid Agung Banten


Inilah salah satu masjid tua dengan nilai sejarah yang penting di Nusantara. Dibangun pertama kali oleh Sultan Maulana Hasanuddin (1552-1570), sekaligus sultan pertama Kasultanan Demak dan putra pertama Sunan Gunung Jati. Masjid ini selain sebagai pusat pengembangan Islam di Banten, juga untuk melengkapi bangunan kesultanan yang ada. Masjid Agung Banten berada di kompleks bangunan masjid di Desa Banten Lama, sekitar 10 km sebelah utara kota Serang.
Masjid Agung Banten merupakan bangunan bersejarah masa penyebaran Islam di Jawa bagian barat dan sekarang menjadi tempat favorit peziarah di Jawa. Meskipun telah berumur lebih dari 4 abad tetapi masjid ini masih berdiri kokoh dan terawat baik. Seperti juga masjid-masjid lainnya, bangunan induknya berdenah segi empat.

Atap masjid ini bersusun lima dengan bagian kiri dan kanannya terdapat masing-masing serambi.  Atapnya yang bertumpuk lima berbeda dengan masjid di Jawa umumnya yang bertumpuk tiga. Sebuah pengaruh arsitektur China terlihat di sana sini mengingat salah satu arsiteknya adalah Tjek Ban Tjut (Pangeran Adiguna) yang berasal dari China (ada yang menyebut dari Mongolia). Atap lima tumpuk itu mempunyai makna 5 Rukun Islam. Sebenarnya dua atap teratas terlalu kecil untuk disebut atap, jadi terkesan hanya sebuah hiasan atau “mahkota” bangunan saja.

Pintu masuk Masjid di sisi depan berjumlah enam yang berarti Rukun Iman. Enam pintu itu dibuat pendek agar setiap jamaah menunduk untuk merendahkan diri saat memasuki rumah Tuhan. Jumlah 24 tiang masjid menggambarkan waktu 24 jam dalam sehari

Di serambi kiri yang merupakan bagian utara masjid terdapat makam beberapa sultan Banten dan keluarganya, seperti makam Maulana Hasanuddin dan isterinya, Sultan Ageng Tirtayasa, dan Sultan Abu Nashr Abdul Qahhar. Sedangkan di dalam tepat di serambi kanan selatan terdapat pula makam-makam Sultan Maulana Muhammad, Sultan Zainul 'Abidin, dan kerabat kesultanan lainnya.

Di bagian sisi timur masjid terdapat menara setinggi 24 meter dengan diameter pangkalnya 10 meter. Menara ini dulunya selain tempat untuk mengumandangkan adzan juga untuk mengawasi perairan laut. Dibangun masa Sultan Haji tahun 1620 oleh seorang arsitek Belanda bernama Hendrik Lucaszoon Cardeel. Pada waktu itu, Cardeel membelot kepada pihak Kesultanan Banten, kemudian dianugerahi gelar Pangeran Wiraguna.

Bagian Selatan Masjid Agung Banten terdapat bangunan yang dinamakan Tiyamah. Bentuknya berupa segi empat panjang dan bertingkat. Bangunaan ini mempunyai langgam arsitektur Belanda kuno dan menurut sejarah hasil rancangan Lucazoon Cardeel. Dahulu bangunan ini dipergunakan sebagai tempat musyawarah dan diskusi keagamaan.

Banten sejak dahulu dikenal dengan kehidupan agamanya yang harmonis dan toleran. Buktinya Akan Anda temukan kuil China yang dibangun pada masa-masa awal kesultanan Banten, letaknya sekitar 50 meter dari Benteng Speelwijk. Kuil ini juga merupakan salah satu kuil tertua di Indonesia.

Setiap hari Masjid Agung Banten ramai dikunjungi peziarah yang datang tak hanya dari Banten dan Jawa Barat, tapi juga dari berbagai daerah di Indonesia hingga negara tetangga.





Tips

Di Museum Kepurbakalaan Banten Lama ada penawaran paket tur arkeologi, untuk maksimal 10 orang. Tidak sekadar tour wisata sejarah tetapi Anda akan diajari cara mencari dan menggali sebuah situs juga cara mendokumentasi artefak yang ditemukan.

BERKELILING



Jangan jadikan kunjungan Anda ke Banten Lama dengan hanya melihat Masjid Agung Banten. Ini mengingat kawasan Banten Lama menyimpan peninggalan sejarah yang beragam dan penuh nilai. Nah, jadi kunjungi juga beberapa tempat menarik di kawasan ini. Lebih bijak Anda menggunakan jasa pemandu wisata untuk berkeliling dan mendapatkan penjelasan rinci tentang cerita di balik peninggalan sejarah bernilai ini.

Museum Kepurbakalaan Banten Lama, museum ini dapat memberikan gambaran garis besar kepada Anda tentang sejarah dan kehidupan Kesultanan Islam Banten. Tarif masuknya Rp1000,00 per orang. Ada ruang pajang dengan beragam artefak dari masa Banten Lama, termasuk saluran air terakota prasarana pengaliran dari Tasik Ardi hingga ke Istana Surosowan. Temukan juga meriam Ki Amuk yang berprasasti huruf Arab. Museum ini buka dari Selasa-Minggu.

Situs Istana Keraton Kaibon, merupakan tempat tinggal Ratu Aisyah, ibu dari Sultan Syaifudin. Reruntuhannya masih dapat dinikmati. Di samping istana terdapat kanal dan pepohonan besar, dimana bisa Anda bayangkan keindahan istana ini dengan kanal trasportasi air sebelum dihancurkan Belanda tahun 1832.

Situs Keraton Surosowan, dikenal juga dengna nama Gedung Kedaton Pakuwan yang dibangun Maulanan Hasanuddin, berupa sisa reruntuhan, tumpukan batu bata merah, dan batu karang masih tampak membentuk sebuah bangunan keraton. Reruntuhan keraton ini seluas sekitar 3,5 hektar dan dulunya merupakan tempat tinggal sultan Banten yang dibangun tahun 1552. Tempat ini dihancurkan Belanda pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa tahun 1680. Sempat diperbaiki namun kemudian dihancurkan kembali tahun 1813 karena sultan terakhir yaitu Sultan Rafiudin, tak mau tunduk kepada Belanda.

Menara Pacinan Tinggi, awalnya ini adalah kawasan Masjid Pacinan Tinggi, namun saat ini hanya tersisa menaranya saja. Diperkirakan berdiri sebelum Masjid Agung Banten dan memiliki konstruksi bata dan karang.

Vihara Avalokitesvara, merupakan salah satu vihara tertua di Indonesia dan keberadaan diyakini sebagai bukti harmonisasi penganut agama yang berbeda saat itu. Bangunan ini merupakan tempat peribadatan umat Budha pada masa awal yang lokasinya tidak jauh dari Benteng Speelwijk. Di dalamnya Anda dapat menikmati suasana sejuk dengan banyak pepohonan rindang juga tempat duduk yang nyaman untuk beristirahat. Di bagian koridor vihara yang menghubungkan bangunan satu dengan yang lainnya terdapat relief cerita Ular Putih yang dilukis warna-warni.

Benteng Speelwijk, terletak tepat di depan vihara Avalokitesvara. Benteng Spellwijk dulunya digunakan sebagai menara pemantau yang berhadapan langsung ke Selat Sunda, sekaligus tempat ini berfungsi sebagai penyimpanan meriam dan alat pertahanan. Dahulu Belanda menggunakan tenaga orang China untuk membangun benteng ini. Berdiri 1585 dengan menara intai kini akibat pendangkalan tepi laut membuat lokasinya seakan terpisah dari pantai. Benteng ini memiliki parit di sekelilingnya. Areal luas di dalam benteng ini menjadi lapangan bola penduduk sekitar. Temukan juga kompleks makam Belanda (kerkhof)  tak jauh  dari kompleks ini. Di sini Anda dapat merasakan suasana benteng sambil naik ke atasnya untuk memandang pesisir pantai dan kapal nelayan. Kedai es kelapa muda menggiurkan ada di sekitarnya sanggup memuaskan dahaga Anda setelah berkeliling di Banten Lama.

Pangindelan Abang, disebut abang (merah) karena kondisi awal yang masih belum jernih dimana kemudian dari sini lalu dialirkan ke arah Pengindelan Putih.  Pangindelan Abang adalah sebuah tempat penyaringan atau dam sesi pertama dimana air dialirkan dari Tasik Ardi menuju Istanan Surosowan.

Tasik Ardi, berupa danau dengan pulau buatan untuk tempat beristirahat keluarga kesultanan saat itu. Ada saluran air bawah tanah berlapis terakota yang menghubungkan telaga ke istana melewati dua area penyaringan yaitu Pengindelan Abang dan Pengindelan Putih.

Pelabuhan Karang Hantu, kadang  juga ditulis karangantu  dimana termasuk rangkaian jalur sutra (The Silk Road) artinya telah disinggahi pedagang dari berbagai negara Asia dan Eropa. Tempat ini dulunya menjadi pelabuhan Sunda terbesar setelah Sunda Kelapa di Jayakarta.


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar