Di
dinding curam sebuah bukit, nampak peti mati bertumpuk di celah
tebingnya. Patung kayu manusia lengkap dengan pakaian berjejer rapi di
dinding tebing yang dipahat ibarat jendela sebuah rumah. Tak jauh dari
makam gantung ini, tersembunyi sebuah gua makam yang usianya ratusan
tahun.
Inilah tempat yang telah memukau banyak wisatawan dari berbagai
penjuru dunia. Pastikan Anda memasukkan Londa dalam daftar tujuan wisata
yang perlu disambangi. Tidak ke Londa maka Anda belum mengenal Toraja!
Setiap
suku bangsa di dunia dengan adat dan kepercayaannya memiliki cara
berbeda dalam menghormati dan menguburkan kerabat yang sudah meninggal.
Sudah bukan rahasia bahwa cara masyarakat Tana Toraja
(khususnya kaum bangsawan) dalam menguburkan kerabatnya adalah salah
satu yang paling unik di dunia. Serangkaian upacara pemakaman adat yang
mahal (Rambu Solo) dan makam gua pada tebing-tebing yang tinggi dapat
Anda temui di Tana Toraja, Makasar, Sulawesi Selatan.
Londa
adalah salah satu gua makam paling popular sebagai tujuan wisata di
Tana Toraja. Objek wisata Londa berada di Desa Sandan Uai, Kecamatan
Sanggalangi. Lokasinya kurang lebih 7 kilometer dari selatan Kota Rantepao,
pusat pariwisata dan akomodasi bagi wisatawan. Oleh karena itu, Londa
mudah dicapai dengan kendaraan umum seperti bemo, ojek, atau pun mobil
atau motor sewaan.
Dari
kejauhan, tampak tebing curam yang dirimbuni hijau pepohonan. Jika mata
Anda jeli, Anda mungkin melihat peti jenazah berwarna cerah diselipkan
di celah-celah dinding tebing. Di kaki tebing tinggi nan rimbun inilah,
tersembunyi sebuah gua alam yang dijadikan makam.
Setibanya
di dekat gua, Anda mungkin dengan segera menangkap nuansa mistis. Alam
yang masih hijau dan liar serta cuaca pegunungan yang dingin akan juga
menyambut setibanya di lokasi. Di dinding tebing sekitar gua, Anda akan
melihat deretan patung kayu (tau-tau) di tebing batu yang dipahat serupa etalase tanpa kaca bagi patung-patung tersebut. Tau-tau
adalah kayu yang dipahat semirip mungkin dengan jenazah yang dikubur di
sana. Biasanya kayu yang dipilih adalah kayu nangka yang cenderung
berwarna kuning, warna yang paling dekat dengan warna kulit manusia.
Beberapa tau-tau dibuat dengan memerhatikan detailnya; garis kerut wajah atau kulit leher yang kendur sebab sudah tua dipahat dengan teliti.
Di sekitar barisan tau-tau, tampak peti-peti mati (erong)
yang disangga oleh kayu sedemikian rupa hingga peti-peti tersebut aman
berada di atas tebing. Rupanya inilah makam gantung yang kerap
disebut-sebut orang sebagai daya tarik lain dari Tana Toraja. Peti mati (erong)
tersebut adalah peti mati kaum bangsawan atau yang kedudukannya
terhormat. Semakin tinggi letak petinya maka semakin tinggi derajat
jenazah yang dikubur di sana.
Masyarakat
Toraja percaya bahwa orang yang meninggal dapat membawa hartanya ke
kehidupan setelah mati. Inilah salah satu alasan mengapa mereka mengubur
peti-peti mati di tempat-tempat yang tinggi. Selain untuk melindungi
harta yang ikut dikubur, mereka juga percaya bahwa semakin tinggi letak
peti mati maka semakin dekat perjalanan roh yang meninggal menuju
tempatnya setelah mati (nirwana).
Sebelum
memasuki gua, tampak tulang-tulang berserakan. Tulang-tulang tersebut
berasal dari peti mati yang jatuh dari tebing tempatnya semula digantung
atau karena peti mati sudah hancur dimakan usia. Tengkorak dan
tulang-tulang ini dapat saja ditempatkan di peti yang baru, hanya saja
untuk melakukan hal tersebut harus pula dilaksanakan upacara adat yang
sangat mahal; upacara yang mungkin sama saat peti tersebut pertama kali
dikuburkan.
Upacara pemakaman secara adat bagi jenazah bangsawan Toraja dikenal dengan nama Rambu Solo.
Untuk dapat melaksanakan upacara adat ini, sanak keluarga yang
ditinggalkan harus menyembelih sekira 24 hingga 100 ekor kerbau (bagi
golongan bangsawan) atau sekira 8 ekor kerbau dan 50 babi (bagi golongan
menengah). Untuk memenuhi syarat tersebut, tak jarang keluarga yang
ditinggalkan membutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun
untuk dapat mengumpulkan semua kebutuhan yang diperlukan dalam
melaksanakan sebuah upacara Rambu Solo. Selama menunggu upacara tersebut
dilaksanakan, jenazah dianggap belum meninggal dengan sempurna (sakit).
Oleh karena itu, jenazah akan disimpan di rumat adat (tongkonan)
dan diperlakukan sebagaimana orang yang masih hidup, misalnya dengan
memberinya makanan kesukaan, rokok, dan lainnya. Benda-benda tersebut
ditaruh di sisi peti jenazah serupa sesajen. Jenazah yang disimpan itu
sebelumnya dibalsam agar tidak menimbulkan bau.
Gua
makam alam Londa memiliki kedalaman hingga 1000 meter. Dalam menelusuri
gua makam yang konturnya dipenuhi stalagtit dan stalagmit ini, Anda
perlu berhati-hati. Di beberapa bagian gua, ketinggian gua hanya sekira 1
meter, sehingga Anda perlu berjalan membungkuk.
Kondisi
gua yang gelap kemungkinan besar menambah aura mistis gua makam ini.
Namun begitu, perjalanan menelusuri gua makam Londa tentulah merupakan
sebuah pengalaman yang tak akan Anda dapatkan di tempat lain. Pastikan
Anda tidak memindahkan apalagi berniat untuk mengambil tulang,
tengkorak, atau benda lain di area makam, sebab inilah salah satu etika
yang hendaknya dituruti saat memasuki lokasi makam leluhur masyarakat
Toraja. Satu lagi yang perlu diperhatikan apabila Anda berkunjung ke
Londa: Anda wajib memohon izin sebelumnya dengan membawa sirih pinang
atau kembang.
Apabila ada peti mati yang jatuh karena rapuh dari tebing tempatnya semula diletakkan, maka tulang, tengkorak, ataupun dan yang lainnya tidak boleh dipindahkan tanpa persetujuan adat dan serangkaian upacara adat Toraja. Oleh karena itu, Anda perlu berhati-hati jangan sampai menginjak tulang dan tengkorak tersebut, apalagi memindahkannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar